Home HEADLINE Philipus Peno, Perantau yang Berhati Koperasi

Philipus Peno, Perantau yang Berhati Koperasi

534
Phlipus Adrian Peno Nanu

Pintuair.co, Makassar – Jalan hidup setiap orang memang berbeda. Alur dan lakon yang mau dipentaskan memang telah dikemas sedemikian rupa oleh Tuhan, Sang Pencipta. Yang dirasakan hanya saat kita mementaskan kehidupan itu, menerimanya, menajalani dan mensyukuri keidupan itu.

Merantau adalah sebuah pilihan hidup yang sedang dan sudah dijalani oleh sebagian banyak orang baik yang masih muda maupun yang telah berkeluarga. Rela pergi jauh dan bertahun-tahun, meninggalkan kampung halaman, istri/suami dan anak-anak hanya beriming-iming untuk merubah nasib hidup, masa depan dan kondisi ekonomi keluarga.

Alasan yang paling mendasar, merantau dapat mengurangi beban kehidupan ekonomi, ingin mendapat upah atau gaji yang lebih besar, menambah pengalaman dan keterampilan yang lebih banyak.

Bagi kaum terpelajar, dengan merantau akan mengembangkan ilmu pengetahuan, memperluas cakrawala berpikir sekaligus mengembangkan kecakapan dan keterampilan yang lebih mumpuni.

Mendambakan masa depan yang lebih cerah tentu menjadi dambaan setiap orang. Cita-cita untuk menggapai masa depan yang lebih baik itu juga menjadi dambaan Philipus Adrian Peno Nanu yang sudah lima tahun berkelana di Kota Daeng, Makassar. Philipus yang berasal dari Kampung Mbazang, Desa Benteng Tawa I, Kecamatan Riung Barat, Kabupaten Ngada ini beranjak merantau sejak tahun 2008.

Bermodalkan tekat dan keberanian yang tangguh, demi meraih hidup yang lebih baik, dia tetap menjadi lelaki yang tidak mau takut dengan seribu tantangan yang menghadangnya.

Prinsip tidak takut yang tumbuh didalam dirinya ini bernafaskan filosofi leluhur di kampungnya yang kemudian menjadi petuah bagi setiap generasi laki-laki: Menjadi laki-laki itu tidak boleh takut.

Tapi, apa mau dikata tidak mungkin merantau hanya berbekalkan niat dan tekat saja. Berbarengan dengan ketekatan itu, harus juga membawa seberkas pengalaman dan  sejumput keterampilan kerja. Otak dan fisik memang harus sejalan.

Alhasilnya, ketika dia pertama kali mendaratkan kakinya di Kota Maumere, dirinya mencoba untuk melamar kerja. Dia diterima sebagai pekerja dengan titel pekerja buruh bangunan. Bersama rekan-rekannya, dia menjalani profesi buruh bangunan itu dengan senang hati penuh kegembiraan.

“Ijazah memang ada. Tapi, ijazah SMP. Pengalaman dan keterampilan memang belum sepenuhnya saya miliki. Mau bilang apa. Bermodalkan otot saja, terpaksa saya menjadi buruh kasar,” tuturnya.

Baginya, setiap pekerjaan selalu mengajarkan suatu pengetahuan baru. Dari apa sebelumnya tidak tahu, dapat menjadi tahu. Sekeras apa pun pekerjaan itu, senantiasa terselip sebuah nilai yang patut dibenamkan dalam sanubari. Benar kalau dibilang bahwa pengalaman adalah guru terbaik.

Waktu terus bergulir. Pekerjaan sebagai kuli bangunan sudah menjadi teman kencan yang saban hari diakrabinya. Disela-sela menjalani pekerjaannya itu, ada niat yang tumbuh dari dalam lubuk hatinya untuk kembali ke kampung halamannya di Mbazang.

“Kala senja mulai tiba. Ketika kopi dan sebatang rokok menyentuh raga. Teringatlah saya, akan kampung halaman. Ingat bapak dan mama. Ingat semua keluarga dan kerabat muda di Mbazang. Jika nubari sudah membayangkan mereka, maunya saya lepas kerja ini dan kembali lagi ke kampung,” kisahnya.

Dari pekerjaan yang digeluti, dia belajar untuk setia. Baginya, apabila setiap pekerjaan dijalani dengan penuh kejujuran dan kesetiaan pasti akan meraih kesuksesan. Intinya adalah kesabaran.

Toh, mau berpaling dari pekerjaan sebagai buruh bangunan, mau pekerjaan apa lagi yang cocok dengannya. Pengalaman dan keterampilan pekerjaan lain belum dia miliki. Semua keinginan untuk menjadi ini itu hanya sekedar dalam bayang-bayang kerinduan dan harapan.

“Saya mau jadi sopir. Tapi tidak tau menyetir mobil. Mau yang lain juga saya tidak tau. Hanya bekerja bangunan ini saja yang saya sedikit tau. Biarlah saya menjalani ini sebagai bagian awal untuk melangkahi menggapai impian yang lain,” katanya.

Empat tahun sudah dirinya berkelana di Kota Maumere. Terhitung sejak tahun 2008 sampai 2011. Bekerja khusus sebagai buruh bangunan dengan upah yang pas-pasan.

Ada hal lain juga yang dia pelajari untuk menambah keterampilan. Ibarat, ingin memncing hiu, tapi juga mendapat teri dan kepiting. Begitu juga dengan pengalaman kerja, tidak selamanya bekerja hanya sebagai buruh bangunan tanpa belajar yang lain. Mustahilkan?

“Setelah empat tahun di Maumere. Saya dan teman yang berasal dari Maumere sepakat untuk merantau ke Makassar,” katanya.

Awal tahun 2012 dirinya nekat untuk merantau lebih jauh ke seberang Pulau Flores, tepatnya di Kota Daeng Makassar. Pengalaman kerja sebagai buruh bangunan yang dia lakoni di Kota Maumere menjadi landasan pengetahuan yang harus dibawanya ke Kota Makassar.

Di Makassar sabetan menjadi buruh bangunan tidak lagi disandangnya. Dia menyandang profesi yang sama hanya beda gedung dan bangunan. Kalau di Maumere dia bekerja sebagai buruh bangunan, di Makassar dia disebut sebagai buruh pabrik. Asap pabrik dan debu semen menjadi kosmetik harian yang akrab mendadani para buruh tanpa pernah memintanya.

Hidup dirasakannya semakin kasar. Berpindah dari Kota Maumere ke Kota Makassar kiranya mendapat pekerjaan yang lebih baik malah mendapat pekerjaan yang lebih buruk lagi. Nasib hidup memang tak seindah keinginan dan cita-cita. Ingin mendapatkan yang lebih baik, malah mendapatkan yang lebih buruk.

Nasib sebagai buruh memang selalu buruk. Kerjanya di lingkup yang buruk, gudang semen yang berdebu buruk diupahi lagi dengan upah yang boleh dibilang buruk. Ditambah lagi harga sembako di Kota Makassar yang serba mahal. Tidak kerja sehari tidak dapat uang. Kalau sudah tidak dapat uang tidak dapat makan.

“Di Kota Makassar semuanya serba beli,” ungkapnya.

Situasi hidup terus mengubah hidupnya. Setelah lama dia jalani sebagai buruh pabrik semen, dia akhirnya beralih profesi menjadi seorang security sekaligus sopir mobil di sebuah Cafe Pancious, Jln. Hertasning. No. 28, Kota Makassar.

Dia juga telah menjadi anggota Kopdit Pintu Air di Makassar. Dirinya mendafar menjadi anggota sejak pertengahan bulan November 2016 melalui relawan Kopdit Pintu Air di Makassar, Petrus Simon. (Mon)

Komentar