Home HEADLINE Petani Kaki Puntung, Menabung Pantang Buntung

Petani Kaki Puntung, Menabung Pantang Buntung

522
Viktor Brito, saat transaksi bulanan di ruang Kantor Kopdit Pintu Air Cabang Lembor

Pintuair.co, Lembor – Dia bekerja sebagai petani sawah. Mengolah, menanan, merawat sampai panen adalah pekerjaan utama yang harus ditekuninya sepanjang hidup.

Berjalan tertatih-tatih menuju sawah miliknya yang terbentang di hamparan persawahan Lembor. Kaki bagian kirinya cuma sepotong, dari paha sampai lutut. Puntung. Cuma dibantu sebatang tongkat agar bisa berjalan seimbang.

“E….keraeng….ke sawah ka?” begitulah sapaan kerabat manakalah berjumpa dengannya di jalanan menuju sawah miliknya.

Meski kondisi fisik yang dia alami itu demikian, dia sama sekali tidak menjadikan kaki puntungnya itu sebagai alasan untuk bekerja, mencari nafkah menghidupi istri dan anak-anak.

Dia tidak mau beralasan hanya karena kaki puntungnya itu menumpahkan semua pekerjaan pada istri dan anak-anaknya.

Apalagi anak-anaknya masih mengenyam pendidikan di bangku pendidikan TK dan Sekolah Dasar (SD). Sangat tidak mungkin memberikan pekerjaan fisik yang sangat berat.

Sebagai wujud belaskasihan yang penuh cinta dan penghormatan hidup dari suami kepada istri dan anak-anak, dia tetap melakukan pekerjaan sebagai petani sawah dengan senang hati dan penuh kegembiraan.

Nama lengkapnya Viktor Brito, asal Kampung Pau, Desa Benteng Tado, Kecamatan Lembor, Kabupaten Manggarai Barat. Kondisi fisik yang dia pangguli sejak lahirnya itu, tidak mematikan seluruh daya kreativitas cara berpikirnya untuk membangun hidup dan perekonomian rumah tangga.

“Hanya saya punya kaki kiri yang puntung. Kenapa saya malu bekerja?”, katanya kental dialeg Manggarai Barat.

Tuhan memang maha tahu, beban kehidupan yang diberikan-Nya tidak pernah melebihi batas dan kesanggupan daya pikir dan fisik seseorang.

Meski dirinya menjalani kehidupan dan menghidupi ekonomi rumah tangga dalam kondisi kaki puntung, sekali-kali Tuhan tak pernah meninggalkan dia.

“Jangan lupa Tuhan selama hidup. Syukurilah atas semuanya,” pesannya.

Sebagai manusia, ketika beban banyak mengganjal di pundak dan risau yang tercekik tersangkut di dalam dada, Viktor sang suami dan ayah kadang-kadang selalu berkeluh. Istrinya yang rajin dan murah hati serta anak-anak yang riang gembira selalu memberi ketenangan bagi dirinya.

Jalan hidup biasa redup dan gelap, dalam kondisi demikian menunggu yang lain datang membantu pasti tidak mungkin. Kecuali diri sendiri yang bisa menolong. Harapan besarnya hanya pada istri dan anak-anak tersayang.

Benar kalau dibilang, bagi yang lain mungkin dirinya tak cukup baik, tapi bagi istri dan anak-anaknya, Viktor adalah segalanya.

“Istri dan anak-anak selalu menghibur saya,” ungkapnya.

Kesulitan ekonomi memang menjadi senandung pilu yang selalu dialami dalam drama hidup orang. Bagaimana cara untuk keluar dari kesulitan?

Baginya cacat fisik dalam rupa kaki puntung tidak menghalanginya untuk hidup normal. Menggapai masa depan yang lebih sejahtera, jelas harus dimulai sejak hari ini. Membangun ekonomi keluarga dan pendidikan anak-anak juga harus dirancang sejak hari ini.

Tuhan tak sembunyi kebaikan bagi orang kecil. Jalan keselamatan selalu ditunjukkan Tuhan bagi semua orang yang berharap pada-Nya.

Untuk membangun kehidupan ekonomi rumah tangga dan pendidikan bagi anak-anak, Viktor mulai berkenalan dengan Kopdit Pintu Air saat tim sosialisasi dari Kopdit Pintu Air Cabang Lembor saat itu masih KCP, memberikan sosialisasi di Kampung Pau.

“Saya berkenalan dengan Kopdit Pintu Air pas tim adakan sosialisasi di kampung. Saya sangat tertarik dengan Kopdit Pintu Air karena sangat membantu orang kecil, khususnya seperti saya yang cacat dan petani miskin,” ungkapnya.

Viktor juga ikut dalam sosialisasi tersebut. Merasa tertarik dengan materi sosialisasi, beberapa hari kemudian dia dan istri beranjak pergi mendaftar menjadi anggota di Kantor Kopdit Pintu Air Cabang Lembor.

Sejak bergabung menjadi anggota, Viktor mulai rajin menabung. Baginya menabung tak bergantung fisik normal atau tidak. Apalagi di Kopdit Pintu Air yang menerima semua orang, tanpa membedakan normal atau tidak normal, kaya atau miskin. tetapi, semua orang bisa menjadi anggota.

“Saya punya kaki memang puntung. Tapi, untuk menabung jangan buntung,” celotehnya.

Viktor telah memiliki saham yang cukup besar. Sudah pernah satu kali melakukan pinjaman untuk membangun rumah. Dia yang bernomor anggota 57. 909 merupakan salah satu anggota yang aktif mencicil dan mengangsur tiap bulan, aktif dalam kegiatan dan pertemuan bulanan yang digelari oleh Kopdit Pintu Air Cabang Lembor.

“Saya selalu aktif. Kan sudah pesan dari awal pas sosialisasi. Jadi anggota koperasi itu harus aktif. Supaya nanti hak-hak anggota terpenuhi dengan baik. Makanya saya datang terus cicil dan angsur tiap bulan di kantor ini,” katanya. (Sena)

Komentar