Home HEADLINE Pasutri Penjual Sayur, Menabung Untuk Mama di Kopdit Pintu Air

Pasutri Penjual Sayur, Menabung Untuk Mama di Kopdit Pintu Air

608
Manager Kopdit Pintu Air Cabang Alor, Aloisia C. Du'a Wara menyerahkan santunan duka kepada keluarga duka, Agustina Tera, istri tercinta Blasius Eo.

Pintuair.co, Alor –  Surga ada di telapak kaki ibu. Kasih sayangnya kepada anak-anak tak terhingga sepanjang masa. Suka duka ibu selama mengandung, melahirkan, merawat, mendidik, membesarkan, sekolah, berkeluarga sampai anak-anaknya meraih kesuksesan.

Bahkan di usia senja seorang ibu, dengan tenaga rentanya masih dipercayakan anak-anak untuk menjaga dan merawat cucu. Surga ada di telapak kaki ibu, demikian bunyi petuah klasik untuk sang ibu.

Kenang akan kasih sayang sang ibu. Tentu  dirasakan oleh semua orang.  Nostalgia itu juga dirasakan oleh pasangan suami istri (pasutri) Blasius Eo dan Agustina Tera yang menyisihkan uang hasil jual sayur, menabung untuk sang mama tercinta, Lusia Uwa, di Kopdit Pintu Air Cabang Alor .

Pasutri yang keseharian bekerja sebagai pedagang sayur di Kota Kalabahi mendaftarkan mama Lusia Uwa menjadi anggota pada 12/04/2013. Dengan nomor buku anggotanya 44.591.

“ Mama masuk menjadi anggota sejak tahun 2013. Saya, suami dan ketiga anak kami juga sudah masuk jadi anggota. Hasil jual sayur ini kami tetap sisihkan untuk menabung di Kopdit Pintu Air,” beber Agustina.

Bekerja sebagai pedagang sayur memang tak beruntung tiap hari. Berjualan dibawah teduh sebuah tenda. Untung dan rugi menjadi taruhan. Apa pun terjadi, jual sayur menjadi pilihan satu-satunya jalan untuk bisa menafkahi keluarga dan biaya pendidikan anak.

“Nasib pedagang sayur begini sudah,” kata Agustina.

Sial datang tak terduga. Pasutri asal Maunori, Kabupaten Nagekeo ini bersama pedagang sayur lainnya harus hengkang dari pasar Kota Kalabahi. Mereka disuruh pindah untuk sementara waktu oleh Pemda Alor.

Sebab, pasar Kota Kalabahi mau direnovasi. Sempat ada ketegangan antara Pemda dan para pedagang. Tapi, demi ketertiban dan keamanan pasar, para pedagang harus mengalah.

“Kami sekarang jual di pinggir jalan. Sayur kadang tak laku. Angsur dan cicil ke Kopdit Pintu Air pun tersendat-sendat,” ungkap Agustina.

Dikala jual sayur tak laku, duka pun datang memberitahu. Mama tercinta, Lusia Uwa, Selasa (07/02/2017) menghembuskan nafas terakhir di kediamannya, kampung Maunori, Kabupaten Nagekeo.

Mendengar kabar duka itu, Blasius Eo anak kandung mama Lusia dan Agustina Tera sang menantu dalam kesatuan jiwa raga menjadi layu seiring tangis dan air mata duka. Mau bilang apa, saatnya Tuhan memanggil Lusia Uwa menghadap kehadirat-Nya.

“Mama….e…, mama e…..,” begitulah alun sendu ritme tangis pasutri Blasius dan Agustina.

Tuhan yang memberi, Tuhan pula yang mengambil. Atas kepergian mama Lusia. Anak kandungnya Blasius Eo harus meninggalkan istri dan ketiga anaknya di Alor. Untuk mengikuti prosesi pemakaman mama Lusia.

Sebelum berangkat ke Maunori-Nagekeo, Blasius Eo memberitahu kepada Pengurus Kopdit Pintu Air Cabang Alor. Bahwa anggota yang bernama Lusia Uwa, mama kandungnya itu telah meninggal dunia.

Sebagai bentuk solidaritas bagi anggotaKopdit Pintu Air Cabang Alor menyerahkan santunan duka bagi anggota sesuai hak dan kewajibannya. Santunan duka itu diterima oleh ahli waris dari almarhumah, Blasius Eo.

Agustina Tera istri Balsius Eo merasa terharu akan perhatian serta solidaritas Kopdit Pintu Air kepada anggota yang meninggal. Disinilah dia baru mengetahui ternyata menjadi anggota koperasi ada manfaatnya. Tidak hanya sebagai lembaga simpan pinjam, tapi berspiritkan nilai sosial dan kemanusiaan.

“Terimakasih Kopdit Pintu Air yang telah membantu kami sekeluarga baik suka, duka dan pendidikan ketiga anak kami. Terimakasih Kopdit Pintu Air yang turut berduka atas kepergian mama Lusia,” ungkap Agustina dengan suara sendu duka yang masih mengganjal di hatinya. (Sip/Conni)

Komentar