Home HEADLINE Kisah Sutriono, Seorang Buruh Bangunan

Kisah Sutriono, Seorang Buruh Bangunan

896
Sutriono, Buruh bangunan asal Solo, Jawa Tengah

Pintuair.co, Maumere – “Bermimpilah setinggi langit, kalau pun jatuh sekiranya masih tertahan di bulan dan bintang”. Ungkapan ini sekedar menggambarkan sosok Sutriono (40), seorang pria asal Purwodadi, Solo, Jawa Tengah yang bekerja sebagai buruh bangunan di Maumere, Flores.

Meraih mimpi untuk sukses memang tak semudah indahnya kata yang sekali dibicarakan langsung selesai, atau tak semudah membalikan telapak tangan yang sekali dibuat langsung jadi. Berhadapan realitas hidup yang sungguh pahit, untuk menggapai mimpi yang diinginkan, jelas harus mengeluarkan tenaga dan cucuran keringat.

Kadang keadaan yang pahit membuat orang selalu berdalih bahwa hidup yang demikian sudah menjadi takdir yang tak bisa diubah. Tetapi tidak bagi Sutriono yang keseharian bekerja sebagai buruh bangunan di Maumere. Dia menerima takdir hidupnya dengan penuh syukur dan gembira. Baginya, pekerjaan tidak boleh dilihat sebagai sebuah rutinitas yang membosankan, melainkan sebagai sebuah hobi.

“Kerja sebagai buruh bangunan adalah hobi. Karena itu, saya menikmati pekerjaan saya sebagai buruh bangunan. Pekerjaan ini, saya sudah geluti selama 20 tahun,” katanya sambil tersenyum.

Dia mulai berkerja sebagai tukang bangunan sejak masih di kampung halamannya, Purwodadi. Pengalaman sebagai buruh berawal dari bekerja sebagai penggergaji kayu. Jenuh dengan pekerjaan penggergajian, dirinya beralih bekerja sebagai sopir Ekspedisi Trans Surabaya Jakarta.

Rutinitas menjadi sopir Expedisi selama empat tahun menjadikan dirinya mapan. Rasa cinta mulai bersemi, sambil menyetir mobil. Sutriono yang biasa disapa mas Tri pun mulai mengerlingkan mata, sampai meluluhkan hati seorang gadis seasal Pujisetiawati. Alhasilnya, dalam perjalanan waktu, cinta dua insan ini bermuara pada dermaga hidup rumah tangga.

“Saya mulai berkeluarga ketika usia masih sangat muda. Dan saat itu saya masih bekerja sebagai sopir,” katanya.

Kehidupan terus berubah, diwarnai tuntutan yang bervariasi. Apalagi telah berumah tangga. Sutriono yang kini menjadi ayah dari tiga anak, bermodalkan pengalaman nekat merantau ke Pulau Dewata, Bali.

“Saya muali bekerja sebagai buruh bangunan sejak saya merantau ke Bali” katanya.

Bekerja sebagai buruh bangunan di Bali menjadikan dirinya banyak menimba ilmu dan pengalaman. Baginya bekerja itu ibarat seperti teks yang harus diisi dan harus dibaca, pengalaman adalah guru.

“Saya banyak belajar dari senior-senior, mereka adalah guru bagi saya,” ungkapnya.

Selama lima tahun di Bali, terhitung sejak tahun 2000 sampai 2005. Uang hasil kerjanya sebagian dia kirim untuk istri dan anak-anak. Sebagian digunakan untuk kebutuhan hidupnya. Sesekali dirinya juga pulang ke Solo seperti pada hari libur dan hari raya keagamaan.

“Ya saya pulang juga ke Solo. Liatin istri dan anak-anak,” ungkapnya.

Pada tahun 2008, dia dan rekan-rekan merantau ke Maumere, Flores. Awalnya bekerja salah satu bangunan hotel di Kota Maumere. Tetap dia dan rekan-rekan lakonkan hidup sebagai buruh.

Atas dasar pengalaman, dirinya sudah banyak menoreh bangunan sebagai karya tangan dan pikirannya. Kini, dia sudah sebagai mandor buruh. Pencapaian yang didulangnya tidak membuat putus asa. Malah semakin semangat untuk bekerja.

“Saya tetap nikamti pekerjaan ini. Jujur adalah kunci utama kesuksesan,”katanya.

Untuk masa depan keuangan yang baik dan bisa sejahtera di masa jompo nanti, uang hasil kerjanya, Sutrisno yang juga biasa disapa mas Gondrong ini menabung di Kopdit Pintu Air Pusat, Rotat, Desa Ladogahar, Maumere.

“Saya masuk jadi anggota Kopdit Pintu Air memang. Nanti saya ke Jawa, saya gabung di Unit pelayanan Kopdit Pintu Air di Surabaya. Kan, Kopdit Pintu Air ada juga di Surabaya to.,” ungkapnya.

Untuk bisa sukses, keuletan, kejujuran dan menjaga kepercayaan adalah prinsip hidup yang harus diutamakan.

“Jujur itu penting,” katanya. (Sip)

Komentar