Home HEADLINE Basti Jemaru Dulang Rupiah Hasil Jual Tomat

Basti Jemaru Dulang Rupiah Hasil Jual Tomat

662
Sebastian Jemaru, anggota Kopdit Pintu Air Cabang Mataloko. Sedang berada di lokasi kebun tomat kompleks kebun misi SVD Malanuza, Senin, (11/09/2017)

Pintuair.co, Mataloko – Sebastian Jemaru adalah anggota kopdit Pintu Air cabang mataloko dengan Nomor Buku Anggota (NBA) 31.970. Basti, demikian sapaan akrabnya, beralamat di Desa Malanuza, Kecamatan Golewa, Kabupaten Ngada, mampu mendulang jutaan rupiah hanya dari hasil jual tomat.

Usaha budidaya tomat telah ditekuninya sejak tahun 2008. Bekal pengalaman dan pengetahuan diperolehnya saat membudidayakan tanaman tomat atas bantuan dari dinas pertanian kabupaten Ngada.

“Saya mulai bertekun menanam sejak tahun 2008. Saat itu ada bantuan dana dari Dinas Pertanian Ngada untuk kelompok tani Sedang Mekar. Saya termasuk anggota poktan Sedang Mekar,” paparnya.

Bahwa pengalaman adalah pengetahuan. Teori dan praktek lapangan menanam tomat dari Dinas Pertanian dicerapnya secara baik.

“Sambil bekerja, saya juga belajar,” ungkapnya.

Pada tahun 2009 dirinya mengontrak sebidang tanah seluas 20 are. Lahan seluas itu, dia gunakan untuk menanam tomat.

“Swadaya adalah mandiri.  Petani harus mandiri, kalau gagal jangan putus asa,” katanya.

Dari hasil jual tomat di lahan seluas 20 are itu, ia berhasil meraup  30 juta rupiah. Sebab, menurutnya harga tomat pada tahun 2009-2010 berkisar 15 ribu per kilogram.

“Saya gunakan uang itu untuk beli tanah dan bangun rumah,” katanya

Tak puas dengan hasil yang ada, ia terus meningkatkan usahanya yang cukup menjanjikan ini. Sadar dengan kebutuhan hidup yang tak terbatas, usahanya ini jadi tiang penyokong ekonomi keluarganya.

Dalam kurung waktu tahun 2010-2013, suami dari Eusabia Wae yang adalah juga anggota kopdit Pintu Air dengan nomor buku anggota 33.567 menyewa lagi lahan seluas 7 are yang letaknya tak jauh dari kantor desa Malanuza.

Selain untuk menanam tomat, ia juga menanam lombok di lahan yang ada. Tapi kendalanya tak punya modal. Bagaimana solusi? Syukurlah Basti telah bergabung menjadi anggota kopdit Pintu Air cabang mataloko. Hal ini bisa membantunya.

“Dalam satu tahun, saya bisa panen dua kali. Uangnya, selain untuk kebutuhan rumah tangga juga digunakan untuk pendidikan kuliah anak. Kalau kurang uang, kopdit Pintu Air selalu membantu,” ceritanya.

Tahun 2014-2016, ayah tiga anak ini menyewa lagi lahan perkebunan misi SVD Malanuza seluas 20 hektar. Lokasinya persis berhadapan langsung dengan gerbang STKIP Citra Bakti Ngada, Malanuza. Pada tahun 2017, ia sekali lagi memperluas lahan garapannya dengan mengontrak lahan ditempat yang sama seluas 10 are. Jadi total luas lahan menjadi 30 are.

Dengan lahan seluas ini, ia pun menambah jenih tanaman yang ia budidayakan. Selain tomat, ia juga membudidayakan tanaman lombok, terung dan sayur yang dipilahkannya dalam bentuk bedeng.

“Saya selalu menggunakan pupuk berbahan alamiah. Jarang pakai pupuk kimia. Karena, berdampak pada kualitas buah,” kisahnya. 

Mengenai pemasaran, Basti tidak kesulitan memasarkan hasil panenannya karena warga dan pedagang berbondong-bondong ke kebunnya bila musim panen datang.

“Mama lele dan papa lele, langsung datang beli di kebun. Mereka adalah rekan dan jaringan pemasaran tomat. Kemampuan membeli bisa sampai 200 sampai 500 kilogram,” katanya.

Basti yang punya prinsip tidak takut gagal ini, mengatakan, sejak bergabung di kopdit Pintu Air cabang Mataloko dirinya merasa terbantu dalam usahanya. Kopdit Pintu Air, baginya, ibarat istri yang selalu mendengar keluh kesah dan cepat membantu memenuhi kebutuhan anggota.

“Kopdit pintu air, sungguh merangkul kaum kecil menjadi mapan. Saya rasakan itu,” akuinya. (Sip)

Komentar