Home HEADLINE Anastasia Minsia, Meniti Harapan di Kilometer 8

Anastasia Minsia, Meniti Harapan di Kilometer 8

557
Anastasia Minsia

Pintuair.co, Ende – Anastasia Minsia. Wanita kelahiran Nuabosi, kecamatan Ende, kabupaten Ende ini, percaya bahwa setiap usaha, sekecil apapun itu, harus dilakukan dengan semangat yang utuh.

Itulah yang ia tunjukkan ketika kami menjumpainya di kilometer 8, kelurahan Reworangga, kecamatan Ende Timur, kabupaten Ende, Rabu, 3 Januari 2018.

Kami mendapati mama Anas, begitu ia disapa, bersama suaminya, Barnabas Naba sibuk bekerja di ‘kantor’ yang  jaraknya sepelemparan batu dari kediamannya. Keduanya meniti batu dan mengumpulkannya, untuk kemudian dijual.

“Sudah ada yang pesan. Hari ini ada yang datang angkut karena kemarin tidak jadi angkut,” tuturnya dengan semangat.

Meniti batu sudah menjadi pekerjaan pokok dari kedua pasangan suami istri ini. Bisa dibilang, pekerjaan ini sudah menjadi perkejaan turun temurun yang diwariskan begitu saja dari orang tua sang suami, Barnabas Naba.

“Saya kerja titi batu sejak masih kecil, ikut orang tua. Saya pernah merantau ke Kalimantan. Waktu pulang tetap kembali kerja seperti ini,” tutur bapak Nabas, sapaan akrab Barnabas Naba.

Mama Anas bilang, penghasilan dari kerjanya ini sangat tergantung pada ada tidaknya proyek yang dikerjakan. Kalau kerja proyek berjalan, hasilnya lumayan. Tapi kalau proyek belum ada, harus cari jalan keluar lain.

“Kalau proyek lancar, banyak yang datang beli batu. Tapi kalau tidak lancar, kami harus bertahan dan cari jalan lain,” tutur Mama Anas.

Selain meniti batu, mama Anas juga memiliki pekerjaan sampingan yakni menenun dan beternak babi, sekadar untuk menambah pintu pendapatan keluarga.

“Kalau butuh kain tenun, bisa pesan di saya. Saya juga pelihara babi untuk isi waktu kosong,” kata Mama Anas sambil memecahkan batu demi batu dengan sebilah palu.

Meski tergolong keluarga yang pas-pasan, mama Anas dan suaminya masih bisa mengatur ekonomi keluarganya. Sebagai bendahara keluarga, Mama Anas pun putar-otak untuk menutup lubang-lubang kebutuhan yang pada bulan-bulan tertentu menganga.

Apalagi putri sulungnya sedang mengenyam pendidikan di tingkat sekolah menengah atas. Pasti dibutuhkan biaya lebih untuk biaya sekolah.

Namanya hidup harus ada tantangan. Tantangan itu juga sekaligus menyingkapkan jalan keluar. Diyakini mama Anas bahwa jalan keluar itu akan ditemukan kalau kita punya harapan.

“Beberapa tahun lalu, ada yang ajak untuk jadi anggota kopdit Pintu Air. Karena belum ada uang, beberapa kali saya menolaknya. Tapi kemudian saya bergabung menjadi anggota,” kata mama Anas.

Menjadi anggota kopdit Pintu Air, bagi mama Anas adalah sebuah jalan keluar yang tepat. Sejak menjadi anggota Pintu Air mama Anas mulai menemukan titik terang untuk membangun ekonomi keluarganya.

Meskipun tabungannya masih terbilang kecil, paling kurang Mama Anas sudah mencecapi nikmatnya hasil dari menjadi anggota koperasi.

Ia sudah pernah meminjam uang di kopdit Pintu Air untuk membeli gerobak pengangkut batu demi menunjang kerjanya. Yang terakhir, ia meminjam uang untuk keperluan pendidikan anaknya.

Mama Anas bilang, pendidikan anak menjadi fokus utamanya. Karena itu, ia sisihkan sebagian penghasilannya untuk pendidikan anak-anaknya. Ia juga pelan-pelan mendaftarkan anak-anaknya tersebut menjadi anggota di kopdit Pintu Air.

“Saya harus daftarkan semua anak saya. Sekarang baru dua orang. Mereka harus punya buku tabungan sendiri. Saya mau supaya mereka memiliki masa depan yang baik,” tandasnya.

Mama Anas menginginkan anak-anaknya mampu merencanakan masa depan mereka dan dapat hidup lebih baik dari yang sekarang.

Cara sederhana yang dilakukan mama Anas yakni dengan menjadi anggota koperasi bisa menjadi contoh bagi kita bahwa koperasi bisa membentuk diri kita menjadi pribadi mampu menolong diri sendiri dalam membangun ekonomi keluarga. (Video)

Komentar