Home HEADLINE Mendesain KPI di KSP Kopdit Pintu Air

Mendesain KPI di KSP Kopdit Pintu Air

518
Suasana kegiatan pelatihan penyusunan KPI KSP kopdit Pintu Air pada 23-26 April 2018 di aula PAS Maumere

Pintuair.co, Maumere – KSP kopdit Pintu Air telah berkembang pesat dengan memiliki 45 cabang dan 16 kantor cabang pembantu. Kerja keras para pengelola pun menjadikan KSP kopdit Pintu Air sebagai salah satu koperasi primer nasional pada Oktober 2017 lalu.

Label primer nasional tidak hanya dipandang sebagai capaian. Lebih dari itu, status primer nasional merupakan sebuah tanggung jawab bagi pengelola KSP kopdit Pintu Air.

Wujud dari tanggung jawab itu ditunjukkan melalui pelayanan terbaik kepada anggota melalui kinerja kerja yang baik. Untuk mengukur kinerja pengelola dibutuhkan Key Performance Indicator  (KPI).

Dua pemateri dari Keling Kumang Grup yakin Tomas Aquinas dan Kenedi Tia memberikan pelatihan kepada pengurus, pengawas dan tim manajemen KSP kopdit Pintu Air untuk merumuskan dan menyusun indikator capaian kinerja dari masing-masing bidang dalam organisasi kerja koperasi. Kegiatan ini berlangsung empat hari pada 23-26 April 2018.

Di hadapan para pengurus, pengawas dan manajemen KSP kopdit Pintu Air, Aquinas mengatakan bahwa sesungguhnya semua lembaga ingin memberikan pelayan terbaik kepada anggotanya. Namun tidak semua dapat mewujudkannya.

“Sudah cukup bukti kalau banyak koperai yang pada akhirnya gulung tikar alias bubar. Hal itu terjadi karena lembaga tersebut menghadapi sejumlah hambatan,” tutur Aquinas.

Menurut Aquinas, ada empat hambatan utama di lembaga koperasi, yakni: Pertama, hambatan pada visi. Dikatakannya, pada umumnya hanya 10 % dari total jumlah karyawan koperasi yang tahu dan memahami visi organisasi tempat mereka bekerja.

“Bagaimana tujuan dapat dicapai bila karyawan tidak tahu sasaran yang ditujui,” kata Aquinas.

Kedua, hambatan pada pelaku. Pelaku yang diperlukan dalam sebuah koperasi adalah orang yang berkompetensi bagus. Orang yang bekompetensi bagus tentu memiliki pengetahuan yang mumpuni dan keterampilan tinggi dengan dilandasi sikap  mental yang baik.

Tiga, hambatan pada manajemen. Diuraikannya berdasarkan studi yang dilakukan oleh Kaplan dan Norton membuktikan bahwa 85 % dari tim manajemen yang menghabiskan waktu kurang dari 1 jam perbulan untuk membahas strategi.

“Umumnya hanya focus pada hal-hal seperti keuangan, penjualan dan inventaris. Masalah intangible (kapasitas tak tampak) luput dari perhatian dan pembicaraan,” jelas Aquinas.

Dan keempat adalah masalah sumber daya.  Hal ini berkaitan dengan sumber daya manusia, sumber daya modal dan sumber daya alam. Semua sumber daya itu harus dikelola secara baik.

“Perusahan yang hebat bukanlah perusahan yang hanya mampu memecahkan masalah, namun perusahaan yang  mampu mengeksploitasi segala peluang,”pungkas Aquinas.

Pose bersama tutor dan pengurus, pengawas dan manajemen KSP kopdit Pintu Air usai pelatihan penyusunan KPI KSP kopdit Pintu Air pada 23-26 April 2018 di aula PAS Maumere

Balanced  Score Card

Model Key Performance Indicator (KPI) balanced score card merupakan model KPI yang dipilih KSP Pintu Air. Model ini menggunakan empat indikator sebagai alat ukur. Keempatnya adalah keuangan, pelanggan, proses bisnis internal dan pertumbuhan serta pembelajaran.

Berbicara soal keuangan, hasil seperti apa yang diharapkan oleh pengurus dan manajemen. Sementara dari sisi pelanggan, bagaimana pelanggan mendapatkan hasil produk sesuai dengan yang diharapkan. Sedangkan proses bisnis internal berkaitan dengan apa yang dilakukan organisasi untuk menghasilkan produk yang lebih baik. Dan terakhir, pertumbuhan dan pembelajaran bersentuhan dengan mutu SDM oraganisasi, IT dan anggaran yang dikelola.

Demi mendukung kelancaran penyusunan KPI balanced score card dibutuhkan alat pendukung berupa laporan bulanan keuangan, standar operasional prosedur, petunjuk teknis operasinsal (PTO), arus kas, dokumen analisa SWOT serta jobdesk.

Score Card merupakan kartu yang diugunakan untk mencatat score performa organisasi  dan juga  untuk mencatatkan skore performa individu. Dengan itu, capaian prestasi masing-masing individu dalam koperasi dapat diukur.

Sebuah matrik dikatakan memenuhi unsur KPI apabila memiliki; target apa yang hendak dicapai serta waktu yang diperlukan untuk meraih target tesebut. Berikutnya, berorientasi pada outcome tidak ganya output. Dan memiliki nilai ambang batas untuk membedakan antara nilai target dengan nilai aktual. (lex)

Komentar